www.smkn1saptosari.sch.id (GUNUNGKIDUL). Siswa kelas XI Konsentrasi Keahlian Desain dan Produksi Busana B (DPB) SMKN 1 Saptosari sukses menyelenggarakan kegiatan fashion show bertajuk Peragaan Busana Skadebe yang digelar di Atrium Catwalk Fashion Factory Lab, Jum’at (6/2/2026).
Peragaan busana kali ini mengusung tema “Harmony of Era and Culture”, sebuah perayaan estetika yang memadukan keanggunan budaya lokal dengan dinamika tren mode masa depan. Setiap koleksi menampilkan bagaimana kain tradisional berpadu dengan siluet modern, menciptakan harmoni yang relevan lintas generasi.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh siswa kelas X, guru, serta tenaga kependidikan SMKN 1 Saptosari. Acara dibuka dengan sambutan Ketua Panitia, Hilma Ayunina. Ia menyampaikan bahwa proses menjadi desainer tidak hanya soal menggambar sketsa, tetapi juga tentang konsistensi, pemecahan masalah, dan keberanian mewujudkan imajinasi menjadi karya nyata.

“Kami belajar bahwa desainer bukan hanya mencipta keindahan, tetapi juga keberanian mengubah ide menjadi busana yang layak pakai. Terima kasih kepada Bapak dan Ibu Guru yang sabar membimbing kami dari memegang gunting hingga mampu membuat pola presisi. Tanpa ilmu dan semangat dari guru, karya ini tak akan bernyawa,” ungkap Hilma.
Kepala SMKN 1 Saptosari, bapak Markidin Parikesit, S.Pd., M.T., dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada para siswa karena seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari konsep, perencanaan, pencarian pendanaan, hingga pelaksanaan, dikelola mandiri oleh siswa. Beliau juga menyoroti kolaborasi lintas kompetensi keahlian antara DPB dan Teknik Audio Video dalam dokumentasi serta sistem audio.

“Kegiatan ini menjadi bukti bahwa siswa mampu bekerja profesional. Dari perencanaan sampai pelaksanaan mereka kelola sendiri. Kolaborasi lintas jurusan juga menunjukkan kesiapan siswa menghadapi dunia kerja,” tuturnya.

Dalam peragaan tersebut, ditampilkan tiga sesi runway. Sesi pertama bertema Cream Batik Grace, memadukan tradisi dengan kelembutan warna netral. Sesi kedua bertajuk Blue Batik Essence, menghadirkan dominasi warna biru dalam siluet kontemporer. Sementara sesi terakhir Skena Street Wear menampilkan gaya busana jalanan yang santai namun edgy, didominasi kaos oversized, baggy jeans, dan celana cargo.

Tidak hanya menampilkan busana, Peragaan Busana Skadebe juga diperkaya dengan sesi hiburan seni dan musik yang menambah atmosfer acara. Tari Gebyar Jogja dibawakan oleh Salma Khalisha Arifin, fragmen tari dari pagelaran Swarna Lestari Swarga Abadi tahun 2024 yang menggambarkan semangat pelestarian budaya DIY melalui kolaborasi Reog Gunungkidul, Angguk Kulonprogo, Badui Sleman, dan Montro Bantul yang ditata oleh Ria Silviani, S.Pd.

Dilanjutkan dengan Tari Angguk Kita oleh Nuri hidayatun najah dan Almira Oktaviana Widiyawati , perpaduan Angguk Kulonprogo dan Angguk Kipas Sleman yang menonjolkan gerak dinamis bahu, pinggul, dan anggukan kepala dengan properti kipas.

Sesi hiburan musik turut dihadirkan melalui penampilan Alyn Mulikha Hidaya yang membawakan lagu bernuansa komunikatif, serta duet Hilma Ayunina bersama Dhio Hayu Arfandi yang sukses menghidupkan suasana arena peragaan.

Guru produktif Desain dan Produksi Busana sekaligus pendamping kegiatan, ibu Bexzy Kurnilasari, S.Pd., mengapresiasi kemandirian dan profesionalisme siswa dalam menyelenggarakan Peragaan Busana Skadebe.
“Peragaan Busana Skadebe bukan hanya menampilkan hasil karya, tetapi juga proses belajar yang utuh. Mulai dari merancang konsep, mengelola waktu, bekerja dalam tim, hingga berani tampil di depan publik. Saya bangga karena siswa mampu menunjukkan sikap profesional dan kreativitas yang terus berkembang. Ini menjadi bekal penting bagi mereka saat terjun ke industri fashion nantinya,” ujar ibu Bexzy.

Peragaan Busana Skadebe merupakan bagian dari pembelajaran mata pelajaran pilihan Desain dan Produksi Busana pada materi Manajemen Peragaan Busana. Melalui mata pelajaran ini, peserta didik dibekali kompetensi dasar dalam peragaan busana serta dipersiapkan untuk terjun ke dunia industri kreatif, khususnya bidang fashion, baik sebagai peraga, asisten fashion show, maupun pendukung kegiatan peragaan busana secara profesional.
Melalui kegiatan ini, siswa memperoleh ruang ekspresi kreatif sebagai desainer muda De Skamoda, sekaligus sarana pelestarian wastra nusantara dalam format modern, penguatan koneksi dengan dunia industri fashion, serta pengembangan karakter berupa kepercayaan diri, disiplin, dan kemampuan kolaborasi dalam menyukseskan acara berskala besar.

Tim Publikasi SMKN 1 Saptosari
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!